Nama
Lengkap : Raden Ajeng Kartini Alias:
R.A Kartini
Tempat
Lahir: : Jepara, Jawa Tengah
Ayah : Raden Mas Adipati Ario
Sosroningrat
Ibu : M.A Ngasirah
Suami : K.R.M. Adipati Ario
Singgih Djojo Adhiningrat
Anak : Raden Mas Soesalit
Wafat : 17 september 1904

Kartini
mulai mengembangkan dengan belajar menulis dan membaca bersama teman sesama
perempuannya, saat itu juga Kartini juga belajar bahasa Belanda. Semangat
Karyini tidak pernah padam, dengan rasa keingintahuan yang sangat besar, ia
ingin selalu membaca surat surat kabar, buku buku dan majalah eropa dari
situlah terlintas ide untuk memajukan wanita wanita Indonesia dari segala
keterbelakangan.
Karena
kemampuannya berbahasa Belanda, Kartini juga seringkali melakukan surat
menyurat dengan korespondensi dari Belanda. Sempat terjadi surat menyurat
antara Kartini dan Mr.J.H Abendanon untuk pengajuan beasiswa di negeri Belanda,
tetapi semua itu tidak pernah terjadi karena Kartini harus menikah pada 12
November 1903 dengan Raden Adipati Joyodiningrat yang pernah menikah 3 kali.

Pendirian
sekolah wanita tersebut berlanjut di Surabaya, Jogjakarta, Malang, Madiun,
Cirebon. Sekolah kartini didirikan oleh yayasan kartini, adapun yayasan Kartini
sendiri didirikan oleh keluarga Van Deventer dan Tokoh Politik etis. Kartini
meninggal Selang beberapa hari setelah melahirkan anak pertama bernama R.M
Soesalit pada 13 September 1904, tepatnya 4 hari setelah kelahiran R.M
Soesalit, saat itu usia Kartini masih berusia 25 tahun. Setelah kematian
Kartini, seorang Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda Mr.J.H
Abendanon mulai membukukan surat menyurat kartini dengan teman temannya di
eropa dengan judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap
Terbitlah Terang”.
Kartini
sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan
segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu
mengilhami perjuangan kaum perempuan dari kebodohan yang tidak disadari pada
masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, Katini mampu menggugah
kaumnya dari belenggu diskriminasi.
Jangan Lupakan Sejarah.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentarnya yang sopan dan beretika yaa....